Kamis, 22 Januari 2015

BANGUN WOY!

"Ingat, kejahatan terjadi bukan karena ada niat pelakunya. Tapi juga karena ada kesempatan. Waspadalah! Waspadalah! Waspadalah!"

-bang napi-


slogan yang sangat populer, bukan? terlalu populer, malah. semua orang seolah-olah tahu dan mengaminkannya. benarkah demikian?
slogan ini mendorong kita untuk waspada. memikirkan kemungkinan terburuk yang akan orang lain lakukan terhadap kita. tetapi sadarkah, bahwa slogan ini mencuci otak? seolah-olah kejahatan memiliki 2 buah penyebab. seolah-olah ada 2 pihak yang sama bertanggung jawab. BANGUN WOY!
kejahatan adalah tanggung jawab penjahat. kejahatan adalah tanggung jawab penjahat. ini hal yang tidak bisa dipungkiri, hal yang tidak dapat diputarbalikkan.

ada orang menaruh uang sembarangan, lalu dicopet. ya, fakta bahwa orang itu ceroboh benar. fakta bahwa ceroboh itu tidak baik, benar. tetapi fakta orang itu dicopet, adalah sepenuhnya tanggung jawab pencopet. menyembul atau tidak menyembul uang dari kantong, saat pencopet berpikir, memutuskan dan melakukan tindakan mencopet, itu sepenuhnya keputusan sang pencopet. maka dari itu, tindak pencopetan merupakan sepenuhnya tanggung jawab sang pencopet.
ada perempuan mengenakan berjalan sendirian. terlepas dari ia sendirian atau tidak, ia perempuan atau tidak, ia mengenakan pakaian yang bagaimana, saat sang pemerkosa menginginkan perempuan tersebut, itu sepenuhnya keputusan pemerkosa. saat sang pemerkosa melakukan pencobaan pemerkosaan, itu keputusan pemerkosa. dan atas setiap keputusan yang ia ambil, ia bertanggung jawab atas keputusan dan hasil yang terjadi akibat keputusannya.

apa sih manfaat slogan ini? membuat orang lebih waspada? oke, kalau orang menjadi lebih waspada, tingkat keberhasilan tingkat kejahatan mungkin mengecil? tapi apa itu cukup? apa tidak dirasa ada yang kurang?
kalau belum jelas, biar diperjelas. masalah utama dari kejahatan itu apa? yang dari tadi saya tulis itu ujungnya apa?
sang penjahat.

dibandingkan mengajar orang lebih waspada, akan jauh lebih baik, jauh lebih berarti, bila orang diajar untuk tidak melakukan kejahatan. akan jauh lebih berarti untuk mengajar orang tidak mencuri, membunuh, memerkosa, menganiaya, atau tindak kejahatan lainnya. meminta orang lebih waspada memang baik, tetapi itu bukan jalan keluar. apalagi dengan menggunakan slogan yang seolah menanamkan bahwa kejahatan merupakan tanggung jawab kedua pihak, penjahat dan korban, itu TIDAK BENAR. kejahatan adalah tanggung jawab penjahat, maka dari itu oranglah yang harus dihentikan dari melakukan tidak kejahatan.
orang ceroboh akan menerima hasil kecerobohannya, bukan akan bertanggungjawab atas apa yang orang lain lakukan kepada dia karena hasil kecerobohannya. uangnya menyembul dari kantong, itu hasil kecerobohan. uang jatuh, itu hasil kecerobohan. orang mengambil uangnya, itu bukan hasil kecerobohan. itu hasil pemikiran orang yang mengambil. di luar uang itu misalnya tanggung jawab si orang ceroboh dari perusahaan, itu tanggung jawabnya kepada perusahaan. ia tidak bertanggung jawab ke masyarakat, dan masyarakat tidak berhak menuduh bahwa hilangnya uang yang diambil orang sebagai tanggung jawab orang yang uangnya diambil.

teach people to not do crimes, instead of teach people to be careful.

Senin, 19 Januari 2015

the late new year greetings

happy new year, folks.

sorry for saying this late. mana postingan pertama kesannya kok begitu anet...yah maklumlah. tema tahun lalu memang 'kecewa'. gue kecewa dengan banyak hal, banyak orang...yang sebenarnya agak mengesalkan, karena gue ga sering kecewa sama orang. technically, orang bisa kecewa kalo orang tersebut punya ekspektasi dan/ harapan. ga banyak orang yang gue harepin, dan gue juga jarang berekspektasi yang kemungkinan gagalnya besar. yah, tapi prediksi gue salah. no big deal. it's life. in one point or another, i know it would get messed up eventually.

what else should i say? ah, resolusi tahun 2015. kalau kalian mengikuti dari tahun2 sebelumnya, biasanya gue membuat resolusi dengan sebuah tema. misalnya tema 2014 adalah 'to be a good girl'. ga bisa dibilang failed, namun ga 100% successful.
nonetheless, tahun ini ga ada tema. gatau, masih kebawa sinis tahun kemarin, maybe? yah, bisa dikatakan semua hal yang bikin gue down itu numpuk dan terkuaknya pas akhir tahun. meh, whatever.

kayaknya itu aja. gue punya resolusi tahun baru, but i'll keep it to myself. i hope i could write more regularly, but we'll see about that later.
in the end, i wish all readers a great start to a great year. let's work hard and get along with each other. fighting! ^^

Rabu, 14 Januari 2015

once upon a time...



once upon a time, there was a very difficult person named ‘she’. she saw how the world treated people unfairly. she saw how people got hurt, got bullied by a group of people who called themselves ‘friends’. it happened before her eyes, so then she went home and thought to herself, friends were danger.
she kept that thought with her always. she trusted no one, because trust was friends’ weapon. she was mean, harsh, cold and straightforward, so people wouldn’t get closer to her. although people disliked the wall she built between her and them, they couldn’t do anything, because she was strong.
time went by, and she grew up. the friends that she saw bullied other people had moved on and never been seen again. she climbed her wall and saw, there were new people out there. she watched them for quite some time and found herself liking them. she also saw there were people who had been around her wall for a long time.  she gathered her will and courage, and one day, she started leaving her wall.
leaving her wall wasn’t easy. but people outside, who always had been there for a long time, cheered her up. she got more comfortable each day, bolder to share with those people. she started naming them one by one, as ‘friend’. seeing how that name fit them well, she dared herself to meet other people and name them ‘friends’ too. she was so happy, so grateful that she had those who were with her for a long time. she thought, for they had been with her for a long time, they would always be there.
how naïve of her.
things started to go wrong. those people started to change. she got alerted, but she couldn’t bring herself to attack them. instead, she tried slipping away, walking closer to her old wall. after arriving in front of her wall, she realized how long had she left her wall unattended. the wall was withered, a few weapons were missing from its places. while she was thinking in front of her wall, her old friends came one by one, bearing boxes. how shocked she was when she opened those boxes! friends were giving her disappointments, making her deeply disappointed.
disappointment was such an embarrassing thing. she was so embarrassed, she thought of going back to her wall instantly. but then she remembered the cheering she received when she left the wall. the cheering came from the people who gave her those boxes. those good memories from the same people made the boxes heavier. she needed to make a decision soon, whether to return to the wall or bore the disappointment and stayed with her friends.


she is me.

moral lesson: disappointment hurts.