Senin, 06 Januari 2014

i first saw you




Aku mengetuk-ngetukkan kaki ke lantai dengan teratur sambil menyesap minuman di tanganku. Mataku mengembara tak tentu, mengamati pesta malam ini. Omong-omong, pesta yang hebat. Sebenarnya cukup banyak wajah familiar di sini, tetapi aku jelas sedang tak berselera untuk bergerak mendekati mereka demi sebuah basa-basi.
“Rena, sebentar lagi giliranmu.”
Aku meletakkan gelas yang masih separuh penuh di meja, dan membuat jalanku menuju ke panggung. Dapat kurasakan tatapan mengarah ke punggungku, dan tepuk tangan serta seruan kecil. Aku mengambil gitar dan duduk nyaman di depan mic.
“Selamat malam, semuanya. Khususnya untuk Candra, selamat ulang tahun. Selamat beranjak tua juga”, ucapku, memberi jeda. Candra yang tadinya tersenyum langsung mengacungkan tangan, agak kesal. Ruangan pun kembali dipenuhi tawa.
Wish you all the best, dear. This song is for you”, lanjutku. Aku menarik nafas dalam-dalam, dan mulai memetik gitar di tanganku.
We were both young, when I first saw you
I close my eyes, and the flashback starts
I’m standing there on a balcony in summer air
***
“Lagi denger apa sih? Ikutan dong”, ucap Candra sambil menghenyakkan diri di sampingku. “Oh, gue lagi suka lagu ini! On a balcony in summer air…”, ucapnya sambil ikut bernyanyi.
“Sama”, jawabku sambil tersenyum lebar.
“Tetapi....Kok beda suaranya?”
“Iya, ini cover dari youtube.”
“Oh pantesan…Tapi suaranya kok…”
“Iya, keren banget kan?? Gue lagi suka banget nih sama penyanyinya.”
“Sebenernya gue pengen bilang familiar, tapi kayaknya ngga juga. Iya, bagus lho. By the way, siapa nih yang nyanyi?”
“Senior gue di SMA.”
Tepat saat itu pintu terbuka dan sang dosen masuk. Candra langsung buru-buru kembali ke bangkunya.
Sepanjang pelajaran, aku mengurai rambutku untuk menyembunyikan earphone di kupingku. Yup, I keep listening to that song. And it seems I couldn’t stop too. Gue baru saja menemukan penyanyi ini di youtube. Cowok, main gitar akustik dan menyanyikan cover ‘Love Story’ dari Taylor Swift. Dan sejak saat itu, serius, gue nggak bisa berhenti mendengarkan dia. Suaranya, permainan gitar, dan , ehem, wajahnya, semuanya menarik perhatian gue.
***
See the lights, see the party the ball gowns
See you make your way through the crowd
And say hello
Little did I know
***
“Ya ampun, betah amat dengerin lagu ini. Udah mau setahun masih ngga ganti judul,mba?”, ledek Candra saat melihat layar playlistku.
“Abis enak sih. Eh, katanya cowok lo bakal manggung? Lihat yuk. Gue belum pernah lihat cowok lo, tahu.”
“Oh, untung lo ingetin! Yuk!”
Kami langsung berjalan terburu-buru ke panggung seni kampus. Rupanya Candra sudah dipesan untuk datang ke sana, tetapi ia lupa. Saat sudah mau dekat, kami mendengar intro lagu ini mengalun.
“Dia bilang mau bawain lagu ini lho. Ngga bosen kan lo? Hehe”
Dan saat itulah aku melihatnya. Dia, yang selalu hanya bisa kulihat lewat situs youtube. Lengkap dengan gitar yang sama. Dan suara yang selalu kudengar, membawakan lagu yang mengiang-ngiang di telingaku. Rasanya seluruh serat tubuhku tiba-tiba kehilangan daya motorik untuk berpaling darinya. Namun di tengah-tengah kebahagiaan aneh yang kurasakan, ada setitik khawatir. Tadi Candra bilang apa?
“Pacar gue”, bisik Candra dengan nada bangga.
***
I got tired of waiting
Wondering if you were ever coming around
My faith in you was fading
***
“Permisi…Lo Rena, bukan? Anak SMA 22?”, ucap sesosok suara yang sudah sangat kuhapal. Aku menengadah, dan mataku bertemu tatap dengan mata itu.
“Kenalin, gue Erick. Gue pacarnya Candra. Err…Lo tahu kan?”
Aku hanya bisa mengangguk. Lidahku masih belum dapat bergerak. Mataku mengikuti wajah pria itu, yang tersenyum malu-malu. Ia bergerak, duduk di sampingku.
“Ada apa?”, tanyaku setelah berhasil menemukan suaraku. Sudah berbulan-bulan sejak aku melihatnya langsung di panggung seni. Tangannya langsung bergerak menuju rambut, menggaruk kepalanya yang aku yakin tidak gatal.
“Lo sudah diceritain sama Candra, bahwa kita lagi berantem?” Lagi-lagi aku hanya mengangguk. “Gue mau minta bantuan lo…”
***
Tak terasa lagunya sudah akan berakhir. Aku mulai bersiap diri untuk masuk ke tahap selanjutnya. Petikan gitarku semakin intens dan mataku terpejam, memasuki klimaks. Jeritan kagum dan kaget terdengar riuh di ruangan itu. Suaraku tidak lagi terdengar. Yang terdengar adalah suara manis seorang pria, yang bahkan tanpa kulihat dapat kuketahui yang ia lakukan.
Seminggu sebelum acara ini, Erick meminta tolong event di acara ulang tahun Candra. Pertengkaran mereka yang Candra ceritakan kepadaku ternyata hanya strategi Erick untuk membuat kejutan yang romantis. Ia memintaku menyanyikan lagi Love Story  dari Taylor Swift, karena ia tahu pacarnya itu suka sekali saat aku menyanyikan lagu itu. Dan ketika di bagian akhir, ia akan muncul, membawakan cincin sambil menyanyikan reff akhir lagi itu.
Terdengar ruangan sunyi senyap, diikuti teriakan “Yes!” dari Candra, dan tepuk tangan membahana. Erick baru saja melamar kekasihnya yang dipacarinya sejak kuliah. Pacarnya, yang adalah sahabat dekatku. Setelah memeluk Erick, Candra setengah berlari ke atas panggung untuk memelukku. Tubuhku bergerak otomatis membalas pelukannya sambil menyinggungkan senyum terbaikku. Namun, memoriku tidak bisa dihentikan untuk kembali mengulang momen yang menghantuiku sepanjang malam ini.
***
Erick bertemu denganku sore tadi, untuk gladi  resik ‘perform’ kami. Ia bertepuk tangan saat aku selesai bernyanyi dengan wajah puas.
“Wah, suara lo ngga berubah, tetep keren.”
Aku yang sedang membereskan gitar mendeteksi keanehan dari pernyataannya. Melihat ekspresi bingungku, ia hanya tertawa.
“Lo mungkin ngga inget…Tapi gue dulu senior lo waktu SMA. Gue pernah denger lo nyanyi lagu ini…Dan jujur aja di situ gue terpesona banget. Gue cari lagu itu, dan bahkan gue bikin covernya di youtube. Gue juga sempet suka sama lo gara-gara lagu ini, tahu nggak? Haha…Dan cewek yang sekarang gue suka, justru suka sama lagu yang dibawain cewek yang pernah gue suka…Isn’t it funny how the love story goes?”

Para tamu merapat ke panggung tempat kedua sejoli bintang dan pemusik yang mengiringi momen indah mereka berada. Tanpa berpikir lagi, tanganku bergerak memainkan baris terakhir. Kerumunan itu pun turut menyanyi riang.
“I first saw you…”