Aku
mengetuk-ngetukkan kaki ke lantai dengan teratur sambil menyesap minuman di
tanganku. Mataku mengembara tak tentu, mengamati pesta malam ini. Omong-omong,
pesta yang hebat. Sebenarnya cukup banyak wajah familiar di sini, tetapi aku jelas
sedang tak berselera untuk bergerak mendekati mereka demi sebuah basa-basi.
“Rena, sebentar
lagi giliranmu.”
Aku meletakkan
gelas yang masih separuh penuh di meja, dan membuat jalanku menuju ke panggung.
Dapat kurasakan tatapan mengarah ke punggungku, dan tepuk tangan serta seruan
kecil. Aku mengambil gitar dan duduk nyaman di depan mic.
“Selamat malam,
semuanya. Khususnya untuk Candra, selamat ulang tahun. Selamat beranjak tua
juga”, ucapku, memberi jeda. Candra yang tadinya tersenyum langsung mengacungkan
tangan, agak kesal. Ruangan pun kembali dipenuhi tawa.
“Wish you all the best, dear. This song is
for you”, lanjutku. Aku menarik nafas dalam-dalam, dan mulai memetik gitar
di tanganku.
We
were both young, when I first saw you
I
close my eyes, and the flashback starts
I’m
standing there on a balcony in summer air
***
“Lagi
denger apa sih? Ikutan dong”, ucap Candra sambil menghenyakkan diri di
sampingku. “Oh, gue lagi suka lagu ini! On a balcony in summer air…”, ucapnya
sambil ikut bernyanyi.
“Sama”,
jawabku sambil tersenyum lebar.
“Tetapi....Kok
beda suaranya?”
“Iya,
ini cover dari youtube.”
“Oh
pantesan…Tapi suaranya kok…”
“Iya,
keren banget kan?? Gue lagi suka banget nih sama penyanyinya.”
“Sebenernya
gue pengen bilang familiar, tapi kayaknya ngga juga. Iya, bagus lho. By the
way, siapa nih yang nyanyi?”
“Senior
gue di SMA.”
Tepat
saat itu pintu terbuka dan sang dosen masuk. Candra langsung buru-buru kembali
ke bangkunya.
Sepanjang
pelajaran, aku mengurai rambutku untuk menyembunyikan earphone di kupingku.
Yup, I keep listening to that song. And it seems I couldn’t stop too. Gue baru
saja menemukan penyanyi ini di youtube. Cowok, main gitar akustik dan
menyanyikan cover ‘Love Story’ dari Taylor Swift. Dan sejak saat itu, serius,
gue nggak bisa berhenti mendengarkan dia. Suaranya, permainan gitar, dan ,
ehem, wajahnya, semuanya menarik perhatian gue.
***
See
the lights, see the party the ball gowns
See
you make your way through the crowd
And
say hello
Little
did I know
***
“Ya
ampun, betah amat dengerin lagu ini. Udah mau setahun masih ngga ganti
judul,mba?”, ledek Candra saat melihat layar playlistku.
“Abis
enak sih. Eh, katanya cowok lo bakal manggung? Lihat yuk. Gue belum pernah
lihat cowok lo, tahu.”
“Oh,
untung lo ingetin! Yuk!”
Kami
langsung berjalan terburu-buru ke panggung seni kampus. Rupanya Candra sudah
dipesan untuk datang ke sana, tetapi ia lupa. Saat sudah mau dekat, kami
mendengar intro lagu ini mengalun.
“Dia
bilang mau bawain lagu ini lho. Ngga bosen kan lo? Hehe”
Dan
saat itulah aku melihatnya. Dia, yang selalu hanya bisa kulihat lewat situs
youtube. Lengkap dengan gitar yang sama. Dan suara yang selalu kudengar,
membawakan lagu yang mengiang-ngiang di telingaku. Rasanya seluruh serat
tubuhku tiba-tiba kehilangan daya motorik untuk berpaling darinya. Namun di
tengah-tengah kebahagiaan aneh yang kurasakan, ada setitik khawatir. Tadi
Candra bilang apa?
“Pacar
gue”, bisik Candra dengan nada bangga.
***
I
got tired of waiting
Wondering
if you were ever coming around
My
faith in you was fading
***
“Permisi…Lo Rena, bukan? Anak SMA 22?”, ucap sesosok suara yang sudah sangat kuhapal.
Aku menengadah, dan mataku bertemu tatap dengan mata itu.
“Kenalin,
gue Erick. Gue pacarnya Candra. Err…Lo tahu kan?”
Aku
hanya bisa mengangguk. Lidahku masih belum dapat bergerak. Mataku mengikuti
wajah pria itu, yang tersenyum malu-malu. Ia bergerak, duduk di sampingku.
“Ada
apa?”, tanyaku setelah berhasil menemukan suaraku. Sudah berbulan-bulan sejak
aku melihatnya langsung di panggung seni. Tangannya langsung bergerak menuju
rambut, menggaruk kepalanya yang aku yakin tidak gatal.
“Lo
sudah diceritain sama Candra, bahwa kita lagi berantem?” Lagi-lagi aku hanya
mengangguk. “Gue mau minta bantuan lo…”
***
Tak terasa lagunya
sudah akan berakhir. Aku mulai bersiap diri untuk masuk ke tahap selanjutnya.
Petikan gitarku semakin intens dan mataku terpejam, memasuki klimaks. Jeritan
kagum dan kaget terdengar riuh di ruangan itu. Suaraku tidak lagi terdengar.
Yang terdengar adalah suara manis seorang pria, yang bahkan tanpa kulihat dapat
kuketahui yang ia lakukan.
Seminggu sebelum
acara ini, Erick meminta tolong event
di acara ulang tahun Candra. Pertengkaran mereka yang Candra ceritakan kepadaku
ternyata hanya strategi Erick untuk membuat kejutan yang romantis. Ia memintaku
menyanyikan lagi Love Story dari Taylor Swift, karena ia tahu pacarnya itu
suka sekali saat aku menyanyikan lagu itu. Dan ketika di bagian akhir, ia akan
muncul, membawakan cincin sambil menyanyikan reff akhir lagi itu.
Terdengar ruangan
sunyi senyap, diikuti teriakan “Yes!” dari Candra, dan tepuk tangan membahana.
Erick baru saja melamar kekasihnya yang dipacarinya sejak kuliah. Pacarnya,
yang adalah sahabat dekatku. Setelah memeluk Erick, Candra setengah berlari ke
atas panggung untuk memelukku. Tubuhku bergerak otomatis membalas pelukannya
sambil menyinggungkan senyum terbaikku. Namun, memoriku tidak bisa dihentikan
untuk kembali mengulang momen yang menghantuiku sepanjang malam ini.
***
Erick
bertemu denganku sore tadi, untuk gladi resik ‘perform’ kami. Ia bertepuk tangan saat
aku selesai bernyanyi dengan wajah puas.
“Wah,
suara lo ngga berubah, tetep keren.”
Aku
yang sedang membereskan gitar mendeteksi keanehan dari pernyataannya. Melihat
ekspresi bingungku, ia hanya tertawa.
“Lo
mungkin ngga inget…Tapi gue dulu senior lo waktu SMA. Gue pernah denger lo
nyanyi lagu ini…Dan jujur aja di situ gue terpesona banget. Gue cari lagu itu,
dan bahkan gue bikin covernya di youtube. Gue juga sempet suka sama lo
gara-gara lagu ini, tahu nggak? Haha…Dan cewek yang sekarang gue suka, justru
suka sama lagu yang dibawain cewek yang pernah gue suka…Isn’t it funny how the
love story goes?”
Para tamu merapat
ke panggung tempat kedua sejoli bintang dan pemusik yang mengiringi momen indah
mereka berada. Tanpa berpikir lagi, tanganku bergerak memainkan baris terakhir.
Kerumunan itu pun turut menyanyi riang.
“I
first saw you…”