Selasa, 10 Februari 2015

1, 2...3.

 Terlempar. Satu kalimat, dan aku terlempar dari realita. Bukan kembali ke masa lalu, bukan juga menuju ke masa depan. Aku terpaku, terpaut di masa sekarang, tanpa dapat melihat dan mendengar apa yang terjadi di sekelilingku.

Penuh. Itulah yang menggambarkan isi rongga dadaku. Dengan perasaankah? Tetapi bukan organ di dalam dada yang mengatur emosi. Otaklah yang mengatur perasaan dan emosi manusia. Tetapi kini otak seolah kosong, tak mampu berpikir.

Bingung. Apa ada aku? Apa ada kamu? Apa ada kita di antara kita? Bagaimana mungkin tidak ada kita di antara kita? Karena kita ada, maka kita ada. Ketika kita tidak ada, barulah kita tidak ada. Namun demi segala kecanggungan ini,kita bahkan tidaklah nyata. Yang ada hanya kita, bukan kita.

Menghela napas. Tarik, hembuskan, tarik, hembuskan. Tarik napas, tutup mata, dan hitung 1, 2....3. Hembuskan, lalu buka mata.
 

  Kau tetap tidak ada.